Gadis Budak.

September 6, 2007

Seorang raja mabuk cinta pada seorang gadis budak. Ia menyuruh memindahkan gadis itu dari rumah para budak ke dalam istana. Raja bermaksud mengawininya dan menjadikannya permaisurunya. Tetapi aneh, gadis itu sakit keras pada saat ia dibawa ke istana.

Kesehatan gadis itu semakin memburuk. Segala macam obat telah diberikan kepadanya, tetapi sia-sia saja. Dan gadis budak itu mengalami nasib tak menentu antara hidup dan mati.

Dalam keputus asaan raja menjanjikan separuh kerajaan kepada siapa saja yang dapat menyembuhkan gadis itu. Tetapi tak seorang pun berani mengobati penyakit itu karena usaha para tabib yang paling pandai pun telah gagal.

Akhirnya datanglah seorang hakim. Ia memohon supaya diijinkan menemui gadis itu sendirian saja. Setelah berbicara dengannya satu jam lamanya, hakim itu datang menghadap raja yang dengan cemas menunggu laporannya.

“Tuanku Raja” sembah hakim itu, ” hamba berhasil menemukan obat paling ampuh yang pasti akan menyembuhkan gadis hambamu itu. Hamba yakin akan kemanjuran obat ini sehingga seandainya hamba gagal, hamba bersedia kepala hamba dipenggal. Namun obat yang hamba usulkan itu akan sungguh sangat menyakitkan – bukan untuk gadis itu, melainkan untuk Tuanku Raja.”

“Katakanlah, apa obat itu!” teriak sang raja. “akan diberikan kepadanya,berapa pun harganya!”

Hakim itu memandang raja penuh rasa iba dan berkata:” Gadis itu jatuh cinta pada salah satu seorang hamba Tuanku Raja. Ijinkanlah hambamu itu kawin dengannya, niscaya ia akan segera sembuh.”

O, raja yang malang! Ia terlalu menginginkan gadis itu sehingga tidak bersedia melepaskannya! Ia terlalu mencintainnya sehingga tidak akan membiarkannya mati!.

Waspadalah terhadap cinta! Kalau engkau jatuh terperangkap olehnya, cinta itu menjadi kematian bagimu.

(Salah satu cerita A. de Mello SJ dalam bukunya “burung berkicau”)